u3-Watermark-Artikel-Literasi-1
Anti Cyberbullying: Luka Tanpa Darah

ANTI CYBERBULLYING

LUKA TANPA DARAH

Di era digital, kata-kata tidak lagi sekadar angin lalu. Melalui layar ponsel, sebuah kalimat singkat bisa memiliki daya hancur yang sama besarnya dengan kekerasan fisik. Inilah yang kita sebut sebagai cyberbullying.

A. Pengertian Cyber Bullying

Cyberbullying (perundungan dunia maya) ialah perilaku agresif, disengaja dan berulang yang dilakukan melalui teknologi digital (media social, chat , game, situs web) untuk menakuti marah atau mempermalukan korban.

Mengutip buku Fenomena Komunikasi di Era Virtualitas oleh Syahruddin, dkk, cyber bullying berasal dari dua kata, yakni cyber (internet) dan bullying (perundungan). Cyberbullying adalah perundungan yang dilakukan melalui internet atau dunia maya.

Menurut The United Nations Children’s Fund (UNICEF) cyberbullying adalah penindasan atau perundungan dengan menggunakan teknologi digital. Hal ini dapat terjadi di media sosial, platform pengiriman pesan,  platform game maupun telepon seluler.

Berbeda dengan perundungan fisik, cyberbullying adalah penggunaan teks, komentar, atau pesan suara untuk menghina, mengancam, atau mempermalukan seseorang di dunia maya. Karena sifat internet yang “abadi” dan mudah dibagikan, dampak dari serangan verbal ini seringkali terasa lebih menyesakkan.

B. Bentuk-Bentuk Cyberbullying

Bentuk cyberbullying dalam Alodokter, diantara nya:

  1. Flaming: Pengiriman pesan teks yang penuh amarah dan bahasa kasar di forum publik atau grup chat.
  2. Harassment (Pelecehan): Pengiriman pesan ofensif secara berulang-ulang yang ditujukan untuk mengganggu mental korban.
  3. Slurs & Body Shaming: Penggunaan kata-kata rasis, eksis, atau hinaan terhadap fisik seseorang di kolom komentar.
  4. Doxing: Menyebarkan informasi pribadi seseorang disertai dengan narasi kebencian.

C. Penyebab Cyberbullying

Kasus cyberbullying merupakan masalah yang muncul seiring meningkatnya penggunaan internet. Cyberbullying dikatakan sebagai tindak perundungan luas lantaran jangkauan internet yang tanpa batas.

Menurut Halodoc, sejumlah faktor yang menyebabkan seseorang melakukan cyberbullying, yakni:

  1. Masalah Mental. Pelaku cyberbullying tak sedikit yang memiliki masalah kesehatan mental      sehingga     mereka melakukan perundungan. Selain itu, orang yang punya kepribadian manipulatif, senang menyakiti orang lain, dan narsis juga berisiko menjadi pelaku perundungan.
  2. Akibat Konflik
    Jika ada korban yang dulunya merupakan teman dari pelaku cyberbullying, bisa jadi perundungan itu dipicu akibat konflik dari putusnya hubungan pertemanan yang pernah terjalin. Jenis cyberbullying ini dapat didorong oleh rasa marah, cemburu, atau balas dendam.
  3. Bosan
    Beberapa orang yang melakukan cyberbullying juga bisa karena bosan atau ingin mencoba persona baru melalui internet. Hal ini lebih sering terjadi pada remaja yang masih mencari jati diri mereka.
  4. Kesepian
    Tak jarang juga pelaku perundungan adalah orang yang merasa kesepian atau terisolasi di kehidupan nyatanya. Jika mereka diabaikan oleh orang lain, bisa jadi melakukan cyberbullying merupakan cara mereka untuk memperoleh perhatian yang tidak didapatkan di kehidupan nyatanya.
  5. Korban Bully
    Terkadang pula, orang yang merundung adalah korban dari cyberbullying itu sendiri. Karena itu, orang tersebut ingin membalas atas apa yang pernah menimpanya kepada orang lain.

D. Dampak Cyberbullying

Cyberbullying adalah tindakan yang sangat merugikan dan bisa memiliki dampak emosional dan psikologis yang serius pada korban.

Penting untuk mengambil tindakan untuk melindungi diri sendiri dan melaporkan tindakan tersebut  kepada pihak berwenang atau penyedia platform media sosial. Hal ini perlu dilakukan oleh korban atau siapa pun yang menyaksikan tindakan tersebut.

UNICEF:  Bullying terjadi secara online, kamu bisa merasa seperti diserang dari mana-mana, bahkan di dalam rumahmu sendiri. Sepertinya tidak ada jalan untuk keluar.

   Dampaknya dapat bertahan lama dan memengaruhi seseorang dalam banyak cara:

  1. Secara Mental: merasa kesal, malu, bodoh, bahkan marah
  2. Secara Emosional : merasa malu atau kehilangan minat pada hal-hal yang kamu sukai
  3. Secara Fisik: lelah (kurang tidur), atau mengalami gejala seperti sakit perut dan sakit kepala

Perasaan ditertawakan atau dilecehkan oleh orang lain dapat membuat seseorang tidak ingin membicarakan atau mengatasi masalah tersebut. Dalam kasus ekstrim, cyberbullying bahkan dapat menyebabkan seseorang mengakhiri nyawanya sendiri.

Cyberbullying dapat mempengaruhi kita dengan berbagai cara, tetapi tentunya masalah ini dapat diatasi dan orang-orang yang terdampak juga dapat memperoleh kembali kepercayaan diri dan kesehatan mental mereka.

Banyak orang menganggap remeh dengan dalih “Cuma bercanda” atau “Baper banget, kan cuma tulisan”. Namun, secara psikologis, dampaknya sangat nyata:

  1. Trauma Emosional: Korban sering merasa cemas, depresi, hingga kehilangan rasa percaya diri.
  2. Jejak Digital: Berbeda dengan ejekan di sekolah yang bisa terlupakan, komentar jahat di media sosial bisa dilihat oleh ribuan orang dan sulit dihapus sepenuhnya.
  3. Isolasi Sosial: Korban cenderung menarik diri dari lingkungan karena merasa semua orang sedang menghakiminya.

E. Cara Menghadapi Cyberbullying

Jika kamu atau orang terdekat mengalaminya, lakukan langkah berikut:

  • Jangan Membalas: Membalas dengan kemarahan hanya akan memberi kepuasan bagi pelaku (don’t feed the trolls).
  • Simpan Bukti: Ambil tangkapan layar (screenshot) sebagai bukti jika kamu ingin melaporkannya.
  • Gunakan Fitur Blokir: Jangan ragu untuk memutus akses pelaku ke akun media sosialmu.
  • Bicara pada Seseorang: Cari dukungan dari teman, keluarga, atau profesional jika beban mental terasa terlalu berat.

Ingat: Jempolmu adalah harimaumu. Apa yang bagimu hanya “satu komentar iseng”, bagi orang lain bisa menjadi beban pikiran berhari-hari. Berpikir kritis sebelum berkomentar atau mengunggah konten (pikirkan dampak pada orang lain).

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Artikel Terkait